Perbedaan Keluarga Marketing dan Keluarga Karyawan

http://www.promomainan.com – dalam suatu keluarga tentunya background ikut mempengaruhi pola pikir dalam keluarga. Kali ini yang dibahas adalah keluarga yang mempunyai pekerjaan sebagai marketing dan keluarga dengan pekerjaan sebagai karyawan/staff (diluar marketing). Tentunya dari pekerjaan ini akan berpengaruh pada pola pikir dalam pengambilan keputusan di keluarga.

Dalam keluarga karyawan dengan pekerjaan baik itu orang tua , ataupun saudara kandung sebagai staff ( staff admin, staff kepala toko, akunting, financial, HRD, sekertaris , dll) memiliki rata – rata pola pikir yang statis terhadap pengambilan keputusan. Hal ini karena terpengaruh oleh cara berpikir dalam pekerjaan mereka, walau tidak semuanya seperti itu. Dalam pekerjaan sebagai staff orang lebih diarahkan pada mindset “mengikuti aturan dan track dari perusahaan. Sehingga dalam menentukan keputusan – keputusan dalam keluarga pun ikut terbentuk mengikuti track yang ada, keluar dari track dianggap sebagai penyimpangan.

Contoh : Ketika orang tua bekerja sebagai staff di perusahaan, lalu salah satu anak mereka tidak ingin bekerja di perusahaan atau setelah bekerja 3 tahun ingin berjualan dengan menyewa kios kecil. Rata – rata orang tua akan memberikan arahan ” Jangan berjualan karena resikonya tinggi” , ” Jualan itu susah dan tidak mudah” , ” Nanti kamu mau nikah dan keluarga kamu mau makan apa? ” Mengapa pola pikir seperti ini bisa terjadi ? karena seperti yang saya katakan diatas , pembentukan pola pikir yang statis sebagai staff ketika bekerja di perusahaan secara tidak langsung membentuk karakter yang mengikuti track yang ada dan tidak boleh keluar dari track. Lebih tambah susah lagi kalau anda punya calon pasangan dari keluarga pekerja staff juga.

Berbeda halnya bila didalam keluarga marketing. Walau mereka juga sama -sama staff yang bekerja di perusahaan tapi pola pikir mereka sudah terbiasa terlatih untuk tidak selalu mengikuti track ( keluar track disini bukan melanggar aturan) . Karena sebagai marketing tidak boleh berpikir statis tapi harus ada ide – ide baru untuk mengejar omzet. Jadi ketika anak mereka memutuskan untuk berjualan di kios akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari orang tua . Masukan kata – kata bersifat negatif jarang keluar.

Coba kita lihat orang yang bekerja di marketing biasanya mereka pola pikirnya lebih kemaju kemasa depan mereka. Misal setelah 5 tahun bekerja sebagai staff marketing mereka naik jadi manager marketing dan setelah 10 tahun berkerja sebagai manager marketing mereka sudah cukup banyak belajar dari perusahaan lalu keluar dan membut toko / usaha sendiri yang mirip – mirip seperti tempat mereka bekerja dulu. Pelanggannya tentunya bekas dari kantor mereka dulu. Pola pikir seperti ini diturunkan ke anak – anak mereka sebagai risk taker.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s